Angela Merkel Mengunjungi Lokasi Kejadian Teror

Kompromi Merkel tidak berhenti di situ. Dalam konferensi nasional CDU di Essen, ia menyatakan akan memberlakukan larangan mengenakan burka dan cadar bagi perempuan muslim. ”Hukum di Jerman di atas aturan suku dan keluarga, serta (hukum) syariah,” kata Merkel, yang disambut tepuk tangan 1.000 kader CDU, awal Desember lalu. Sikap Merkel tersebut, yang selama ini dikenal toleran, terbilang mengejutkan. ”Merkel menghadapi tekanan luar biasa dari para pemilih dan partainya,” begitu menurut CNN.

Terlebih saat Merkel bersumpah mengerem laju pengungsi ke Jerman. ”Situasi seperti pada akhir musim panas 2015 tidak bisa, tidak boleh, dan harus tidak terulang,” ucapnya. Janji Merkel itu berputar 180 derajat dari sikap awalnya dalam membela pengungsi. Merkel kini hanya memiliki beberapa bulan menjelang pemilihan pada 2017. Merebut hati pemilih, yang makin khawatir atas arus pengungsi, menjadi urusan krusial untuk merebut kursi kanselir. Terlebih, menurut survei Pew Research, 61 persen responden di Jerman menganggap arus pendatang memicu potensi terorisme.

”Masyarakat waswas terhadap keselamatan dan keamanan mereka,” kata Pazderski, pemimpin AfD di Berlin. Untuk menangkal sentimen anti-imigran, Merkel harus menjamin kasus Anis Amri tidak terulang. ”Jerman harus melarang siapa pun melintas tanpa dokumen identitas resmi,” kata seorang petinggi Partai CDU. Dengan begitu, pemilih bisa kembali mempercayai Merkel, yang telah membuka pintu bagi keselamatan jutaan pengungsi. ”Serangan di Berlin adalah ’harga’ demi kemanusiaan,” begitu menurut harian Süddeutsche Zeitung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *