Memberikan Karpet Merah

Erwin memilih audisi dilakukan tertutup dan berdasarkan rekomendasi, karena ia ingin mendapatkan kualitas dan karakter peserta yang benarbenar bagus. Terbukti, sistem ini memudahkan sekali, karena anak-anak yang datang audisi sudah terseleksi sendiri oleh teman atau guru musik yang merekomendasi. “Ketika audisi, kami jadi sangat terhibur karena yang datang tidak hanya bagus secara teknik, tetapi juga ka rakter,” ujar mantan punggawa grup band Karimata ini.

Baca juga : Kursus Bahasa Jerman di Jakarta

Ia lantas menyebut nama Kavin–salah satu peserta audisi–yang mampu bernyanyi sambil main piano dengan piawai, juga Ravi yang menyanyi sambil bermain saksofon. Sejak awal audisi pun, Erwin merasa, kemampuan anak-anak Indonesia banyak yang di atas ratarata, tidak seperti audisi-audisi yang dilihat di televisi dimana juri banyak yang geleng-geleng kepala dan pusing saat melihat peserta audisi.

Karena itulah, program yang dibuat Erwin dan Gita ini, kemudian dinamakan “Di Atas Rata-Rata” disingkat DARR. Audisi dibatasi pada anak usia 9–13 tahun karena Erwin melihat kestabilan emosinya sudah lebih terjaga dan sudah lebih senang musik. Dari audisi tersebut, terpilih 13 anak yang berhak ikut workshop dan program-program lain.

Saat workshop, anak-anak diberikan masukan berharga menge nai peningkatan kualitas vokal, mengasahkarakter vokal, menyanyi diiringi orkestra, menambah kemampuan bermusik, juga bertemu dengan vocal director dan musisi senior, hingga diberi kesempatan untuk rekaman. Erwin pun tak ingin berhenti sampai di situ, ia ingin membuat album untuk anak-anak DARR. Maka, diwujudkanlah album alumni DARR 1 de ngan berba gai ke lebihannya, karena masing-masing anak punya karak ter khas dan unik.

Ari, misalnya, tipe vokal pop-country, lalu Kanya yang punya suara lembut khas ballad -jazz, Sen-Sen punya suara menggelegar dan groovy khas rock n’ roll Raffi Daeng punya feel swing-jazz, dan lainnya. Suami dari Lutfi Andriani atau Lulu Gutawa ini menambahkan, ia dan Gita lebih memberi “karpet merah”–istilahnya–bagi mereka yang memiliki talenta bagus karena sayang sekali jika banyak orang tidak tahu akan kemampuan mereka. “Kami memberi kesempatan pada mereka membuat album, konser, mengenalkan ke masyarakat,” kata Erwin.

Bahkan, tambahnya, ada Noni dari alumni DARR 1 yang sekarang sudah jadi komposer dan lagunya dipakai di album DARR 2 padahal usianya baru 15 tahun. Usaha Erwin dan Gita memberi “karpet merah” pada anak-anak DARR terus berlangsung. Album DARR kedua pun siap diluncurkan. Meski saat ini Erwin dan Gita masih konsentrasi ke Jakarta dan sempat juga ke Bandung, tak menutup kemungkinan anak dari dari luar Jakarta ikut. Caranya? “Kirim video ke kami. Kalau kami tertarik, kami undang ke Jakarta,” terang Erwin. Nah, Siapa berminat?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *