Pertamina Siapkan Investasi US$ 237 Juta di Blok Sanga Sanga

KUTAI KARTANEGARA — PT Pertamina (Persero) akan menyiapkan investasi untuk mengelola Blok Sanga Sanga, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Senior Vice President Upstream Strategic Planning, Portfolio, & Evaluation Pertamina, Meidawati, menyatakan perseroan berkomitmen menyiapkan US$ 237 juta atau sekitar Rp 3,4 triliun. “Investasi itu untuk tiga tahun pertama,” ujarnya kemarin. Pemerintah menyerahkan pengelolaan ladang minyak dan gas SangaSanga kepada Pertamina per 8 Agustus 2018 dari kontraktor sebelumnya, Virginia Indonesia Company (Vico). Untuk meningkatkan produksi di lapangan tua tersebut dibutuhkan investasi untuk eksplorasi.

Meidawati belum bersedia mengungkapkan target produksi Sanga Sanga setelah dioperasikan Pertamina. Perusahaan perlu memastikannya dengan melakukan studi dan eksplorasi terlebih dulu. Dia optimistis peningkatan produksi bisa dilakukan kendati investasi eksplorasi tak murah. Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas (SKK Migas), Amien Sunaryadi, mengatakan tugas pertama Pertamina tidak hanya mempertahankan produksi, tapi juga meningkatkan lifting. Sebab, selama dua tahun terakhir, lifting minyak dan gas dari Sanga Sanga menurun. Salah satu penyebab penurunannya adalah Vico tak menggenjot produksi menjelang berakhirnya kontrak. “Saya berharap transisi bisa mulus dan produksi tidak turun,” ujarnya. Amien menyatakan Pertamina harus melaBisnis INDUSTRI KAMIS, 9 AGUSTUS 2018 I KORAN TEMPO 18 Aditya Budiman budiman@tempo.co.id Pertamina Siapkan Investasi US$ 237 Juta di Blok Sanga Sanga Perseroan akan melakukan eksplorasi untuk menjaga produksi yang menurun. kukan eksplorasi untuk menambah produksi. Menurut dia, masih ada sumur-sumur baru yang berpotensi meningkatkan minyak dan gas di wilayah kerja Sanga Sanga. Sebagai langkah awal, anak usaha Pertamina, Pertamina Hulu, akan melakukan eksplorasi dua sumur. “Tantangannya ialah bagaimana menemukan dan berproduksi dengan efisien,” kata dia.

SKK Migas mencatat produksi minyak di Blok Sanga Sanga selama semester I 2018 mencapai 7.674 barel per hari (bph). Pencapaian itu meleset dari target produksi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 sebanyak 10 ribu bph. Sedangkan produksi gas bumi dari Januari sampai Juni 2018 sebesar 97 million standard cubic feet per day (MMSCFD). Adapun APBN 2018 mematok produksi mencapai 80 MMSCFD. Direktur Pertamina Hulu Indonesia, Bambang Manumayoso, mengakui upaya mempertahankan produksi tidak mudah. Salah satu faktor terbesar ialah usia sumur yang sudah tua.

Menurut dia, selain karena sudah lama tak melakukan eksplorasi secara natural, terjadi pengurangan cadangan migas Blok Sanga Sanga. Bambang mengatakan ada tiga cara untuk mengoptimalkan produksi di wilayah kerja yang sudah berusia 50 tahun itu. Pertama, mengoptimalkan fasilitas yang ada di permukaan atau sumur. Kedua, mengintegrasikan operasional produksi dengan blok atau wilayah kerja lainnya di sekitar Sanga Sanga. Ketiga, melakukan eksplorasi atau mencari sumur baru. “Harus berani ambil risiko mencari cadangan yang belum ditemukan (eksplorasi),” ujarnya.

20 Tahun tanpa Eksplorasi

Presiden Virginia Indonesia Company (Vico) Tumbur Parlindungan memproyeksikan masih ada potensi minyak dan gas di Blok Sanga Sanga, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Menurut dia, potensi yang bisa digenjot tiga sampai empat kali dari produksi saat ini. “Potensinya besar. Sebab, sudah 20 tahun tidak melakukan eksplorasi,” ujarnya di Kutai Kartanegara, Selasa malam lalu. Keputusan tidak melakukan eksplorasi, kata Tumbur, disebabkan tidak ada kejelasan perpanjangan kontrak. Adapun masa kontrak pengoperasian wilayah kerja Sanga Sanga tak lama lagi akan berakhir. Menurut dia, produksi minyak dan gas pada akhir Juli 2018 masingmasing sebesar 10.753 barel per hari (bph) dan 80,7 juta standar kaki kubik per hari (million standard cubic feet per day/MMSCFD).

Direktur Pertamina Hulu Indonesia Bambang Manumayoso mengatakan perusahaan akan berupaya meningkatkan produksi minyak dan gas di wilayah kerja Sanga Sanga, dengan investasi US$ 237 juta. Tahun ini akan dilakukan pengeboran di dua sumur dan tahun berikutnya meningkat menjadi 29 sumur. “Harapannya, produksi bisa kembali ke awal,” kata dia. Vico tercatat memulai produksi di Sanga Sanga pada 1972. Jumlah minyak dan gas yang dihasilkan masih di bawah 10 ribu bph dan 200 MMSCFD. Puncak produksi Vico terjadi pada periode 1990-2000. Saat itu, minyak yang dihasilkan rata-rata mencapai 40-50 ribu bph dan gas sebanyak 1.000-1.700 MMSCFD. Namun penurunan drastis terjadi memasuki 2007. Sejak itu, produksi migas Vico melorot 70 persen.

Penurunan terus bertambah pada 2015 sebesar 40 persen. Direktur Pertamina Hulu Sanga Sanga, Andi Wisnu, menyatakan hal utama yang membuat Pertamina optimistis mengelola wilayah kerja itu karena masih adanya potensi. Selain itu, dekatnya wilayah kerja Sanga Sanga dengan Blok Mahakam bisa mendorong efisiensi dalam pengoperasiannya. “Masih adanya potensi yang kami tawarkan untuk dikelola Pertamina,” kata dia. Blok Sanga Sanga diperkirakan masih memiliki estimasi kumulatif produksi sebesar 258 juta barel setara minyak (MMBOE). Kendati kondisi lapangan sudah tua, pemerintah berharap Pertamina bisa menahan laju penurunan produksi. Wilayah kerja Sanga Sanga berpusat di Muara Badak, di pesisir timur Kalimantan Timur. Pada 1973, Vico awalnya menemukan minyak, dan pada 1977 mulai menemukan gas. Sampai hari ini, ada tujuh lapangan gas di wilayah kerja itu